Translate

Selasa, 29 April 2014

PENCARIAN AQIDAH AHLU SUNNAH WAL JAMA'AH


Kisah ini berjudul
KENAPA HARUS ASY’ARIYAH ??
dikutip dari blog http://generasisalaf.wordpress.com


Saya memiliki berbagai macam pertanyaan yang saya simpan dan saya bawa ke Mesir dengan harapan agar saya mendapatkan jawabannya. Salah satu pertanyaan yang saat itu terlintas di benak saya adalah: Apa itu aliran Asy`ariyah? Dan kenapa harus bernama Asy`ariyah dan tidak langsung saja bernama Ahlusunah? Apa bedanya antara Asy`ariyah dan Ahlusunah? Asy`ariyah itu muncul belakangan, jadi para generasi awal akidahnya apa dong?

Saat itu saya masih belum mengerti betul tentang aliran-aliran yang terdapat di dalam Islam. Yang saya tahu, saya dulu pernah belajar tentang sifat-sifat 20 yang wajib dan mustahil bagi Allah, sifat 4 yang wajib dan mustahil bagi para rasul, dan beberapa hal yang masih saya ingat tentang Sam`iyyat. Konsep pelajaran tentang ketuhanan itu telah saya pelajari sejak SD hingga tiga tahun pertama di pesantren Gontor. Dan setelah hampir 12 tahun, baru saya menyadari bahwa itu adalah ajaran akidah menurut aliran Asy`ariyah.

Jika kita menggunakan logika, maka logika kita akan mengatakan bahwa ajaran Islam yang murni adalah ajaran Islam yang ada dan dipraktekkan pada zaman awal Islam. Begitulah pola pikir saya sebelum saya memasuki masa kuliah di al-Azhar. Jelas sekali bahwa kita diperintahkan untuk beragama sesuai dengan apa yang Allah turunkan kepada rasul-Nya.

Maka saat itu saya bertanya-tanya, kenapa akidah saya adalah Asy`ariyah? Padahal belakangan saya ketahui bahwa imam Abu Hasan al-Asy`ari itu hidup pada awal abad ke empat hijriah, tiga ratus tahun setelah kematian Rasulullah Shallallahu `alaihi wa sallam. Jika itu adalah akidah yang benar, maka kenapa aliran itu baru muncul setelah sekian ratus tahun setelah Rasulullah wafat? Dan jika aliran itu benar, lalu apa yang diyakini oleh orang Islam sebelum kemunculan imam Abu Hasan al-Asy`ari?

Terlebih lagi saat itu saya mendapati teman dekat saya sudah melepaskan keyakinan dan cara beragama yang sama-sama kita jalani di pesantren dulu, ia saat itu telah menganut Islam dengan konsep aliran Salafi yang salah satu pendapatnya adalah bahwa aliran Asy`ariyah bukanlah termasuk kelompok Ahlusunah wal Jamaah karena beberapa sebab. Hal itu semakin membuat saya bertanya-tanya dan berharap untuk mendapatkan jawabannya, karena jika aliran yang saya anut ini salah maka yang benar adalah aliran teman saya itu, atau sebaliknya.

Ketika saya masuk ke al-Azhar, setelah beberapa bulan belajar dan mengikuti perkuliahan, saya mengetahui bahwa al-Azhar, lembaga pendidikan yang telah berumur seribu tahun lebih ini menganut akidah Asy`ariyah. Al-Azhar yang telah melahirkan ribuan ulama di seluruh dunia, menjadi kiblat ilmu keislaman sejak dulu, menganut akidah yang sama dengan yang saya dan rata-rata masyarakat Indonesia dan Asia Tenggara anut, Asy`ariyah. Sejak saat itu saya mencari buku-buku tentang akidah untuk mengobati pertanyaan-pertanyaan saya tadi. Selain mencari buku-buku yang terkait dengan akidah Asy`ariyah, saya pun mencari buku-buku yang berkaitan dengan aliran Salafi sebagai pembanding.

Akhirnya sebuah kunci saya dapatkan. Imam Abu Hasan al-Asy`ari tidaklah membuat sebuah aliran baru dalam Islam, ia tidak mendirikan sebuah mazhab akidah baru dan mengaku sebagai ahlusunah. Ia tidak lain adalah seorang perumus akidah Islam yang telah ada pada saat itu. Ia merumuskan dan menyimpulkan akidah yang dianut oleh para kaum generasi awal Islam melalui riwayat-riwayat dan pengajaran yang telah tersebar saat itu untuk memisahkan antara akidah yang murni dan akidah yang telah tercampur tangan-tangan kelompok Muktazilah, Syiah, dan kelompok lainnya.

Jika kita berpikir bahwa imam Abu Hasan al-Asy`ari adalah seorang pendiri mazhab, maka kita akan sampai kepada pertanyaan di atas tadi, “kenapa mazhab ahlusunah baru berdiri tiga ratus tahun setelah Rasulullah wafat?”, namun jika pikiran itu kita rubah, maka pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya.

Ilmu tajwid telah ada sejak saat Rasulullah membacakan al-Quran kepada para sahabat, namun baru dirumuskan setelah sekian puluh tahun kemudian. Begitu juga ilmu nahwu, ilmu hadis riwayat maupun dirayat, dan beberapa disiplin ilmu lainnya. Maka hal yang serupa juga terjadi dalam ilmu akidah, meski imam Abu Hasan al-Asy`ari bukanlah orang yang pertama merumuskan akidah Islam. Sebelumnya telah ada orang-orang seperti imam Abu Hanifah dengan al-Fiqh al-Akbar-nya dan imam Abu Ja`far al-Thahawi dengan al-Aqidah al-Thahawiyah.

Maka imam Abu Hasan al-Asy`ari tidaklah mendirikan mazhab baru, ia merumuskan akidah Islam sejak generasi awal Islam lalu kemudian ia ajarkan kepada murid-muridnya, dan para murid-murid itu mengajarkan kepada generasi setelahnya hingga para murid itu dikenal sebagai muridnya imam Asy`ari dan disebut dengan Asy`ariyah atau para pengikut imam Asy`ari. Sejak saat itu, tradisi ilmu yang diwariskan oleh imam Asy`ari telah mampu melindungi akidah Islam dari serangan berbagai pihak baik dari luar Islam seperti filsafat Yunani ataupun dari dalam Islam seperti kaum Muktazilah, Murji`ah dan Jabariyah.

Tradisi keilmuan itu pun diteruskan dan dilestarikan oleh para ulama hingga saat ini. Maka jika kita memperlajari sejarah peradaban Islam khususnya dalam masalah akidah, kita akan melihat nama-nama para ulama besar yang meneruskan tradisi keilmuan ini. Sebut saja imam al-Qurthubi penulis tafsir al-Jami` li Ahkam al-Qur’an, imam Ibnu Katsir penulis tafsir Tafsir al-Qur’an al-Adzim, imam Fakhruddin al-Razi penulis tafsir Mafatih al-Ghayb, imam al-Baghawi, Syihabuddin al-Alusi, Jalaluddin al-Suyuthi, al-Khatib al-Syarbini, imam Daruquthni, imam Ibnu Hibban, al-Khatib al-Baghdadi, Imam Nawawi, Imam Ghazali, Ibnu Asakir, Ibnu al-Jauzi, dan ratusan nama lain yang jika saya tuliskan semuanya maka tulisan ini hanya akan penuh dengan nama-nama ulama dan tidak lagi ringkas seperti yang saya niatkan.

Maka, tidak heran jika imam Tajuddin al-Subki menuliskan dalam kitab Thabaqat al-Syafi`iyah al-Kubra, “Saya mengetahui bahwa seluruh pengikut mazhab imam Malik adalah Asy`ariyah, tidak ada pengecualian satupun. Mayoritas pengikut mazhab imam Syafi`i juga adalah Asy`ariyah kecuali beberapa orang yang masuk golongan Mujassimah dan Muktazilah yang Allah tidak peduli kepadanya. Mayoritas pengikut mazhab Hanafi juga adalah Asy`ariyah, yaitu meyakini seperti yang diyakini imam al-Asy`ari, tidak ada yang keluar dari mereka kecuali beberapa orang yang masuk menjadi Muktazilah. Dan para pembesar mazhab Hanbali juga Asy`ariyah, tidak ada yang keluar darinya kecuali beberapa orang yang masuk golongan Mujassimah.”

Jika saja Asy`ariyah bukanlah ahlusunah, maka siapa ahlusunah itu? Jika ahlusunah diartikan secara umum sebagai kaum yang berjalan di atas jalan sunah Rasulullah dan para generasi awal Islam, para ulama besar di atas pun berjalan di atasnya bahkan mereka tidak hanya berjalan namun juga mengembangkan, melestarikan dan mengabdikan dirinya demi menjaga sunah Rasulullah. Dan jika ahlusunah diartikan sebagai sebuah kelompok tertentu, maka kelompok manakah itu? Apakah para ulama besar tadi harus dikeluarkan dari kelompok ahlusunah yang selamat dari neraka?

Telah banyak buku-buku yang membahas penyimpangan Muktazilah, Murjiah dan beberapa kelompok menyimpang lainnya. Buku-buku itu pun telah disusun sejak ratusan tahun lalu, sejak masa imam Abu Hasan al-Asy`ari bahkan sebelumnya. Maka, jika memang Asy`ariyah bukanlah ahlusunah, maka coba sebutkan buku-buku yang berisi tentang penyimpangan kelompok Asy`ariyah yang ditulis sejak awal abad meninggalnya imam Asy`ari. Karena jika tradisi keilmuan kelompok Asy`ariyah adalah sesat, pasti hal itu tidak akan tersembunyikan oleh zaman, dan pasti telah banyak buku yang membahas kesesatannya sejak lama layaknya Muktazilah, Murjiah dan Mujasimah.
Jika seperti ini, menurut saya tidak lagi penting siapa saja dan kelompok mana ahlusunah itu, tidaklah perlu untuk saling mengklaim ataupun memperebutkan nama ahlusunah. Sejarah telah membuktikan bahwa para ulama di atas telah memberikan sumbangsih yang sangat besar terhadap agama ini.
Jika anda menganggap kelompok Asy`ariyah adalah sesat dan keluar dari barisan ahlusunah, maka silahkan hapus nama-nama ulama yang berhubungan dengan Asy`ariyah dari jajaran ulama Islam dan lihat berapa nama yang tersisa di dalam daftar ulama Islam itu. Semoga bermanfaat.

Referensi:
-          Ahl al-Sunnah al-Asya`irah, Syahadah `Ulama al-Ummah wa Adillatuhum, Hamad al-Sinan, Dar al-Dhiya, Kuait, 2010
-          Syarh al-Kharidah al-Bahiyah, Ahmad bin Muhammad al-Dardir, tahkik Musthafa Abu Zayd Mahmud Risywan, Dar al-Bashair, Kairo, 2010
-          Syarh al-`Aqidah al-Thahawiyah, Abdul Ghani al-Ghanimi al-Maydani, tahkik Kamil Ahmad Kamil al-Husaini, Dar al-Bashair, Kairo, 2008
-          Tabyin Kadzib al-Muftari fi ma Nusiba ila al-Imam Abi al-Hasan al-Asy`ari, Ibnu Asakir, taklik Muhammad Zahid al-Kautsari, al-Maktabah al-Azhariyah li al-Turats, Kairo, 2010

KISAH PENCARIAN JATIDIRI DA'I


Kisah ini dikutip dari KISAH TAUBATNYA SALAFYTOBAT disalin dari blog generasisalaf.wordpress.com

Tanya:
saya mau tanya? apakah anda benar pernah ikut salafy? mengapa keluar? karena tobat? atau karena pendapat anda tidak dipakai oleh yang lain?sehingga akhirnya anda “purik” dan membuat blog ini? saya cuma tanya, tidak usah emosi…..semoga Alloh menunjuki kita jalan yang lurus…amin

Jawaban admin Salafy Tobat :
Alasan saya keluar?

karena saya mengecek di kitab ahlusunnah yang asli dan tidak hanya taklid dengan artikel atau ocehan ustaz wahaby. Khususnya di bidang ta’wil ayat mutasyabihat. Coba ande cek di kitab tafsir mu’tabar apakah dalam kitab itu mengambil makna dhahir lafadz istiwa, yadd (tangan), wajh (wajah), nur (cahaya) dsb….

saya sarankan anda membeli kitab asli (bahasa arab) tafsir jalalain, ibnu katsir, qurtubi, annasafi, …beli dulu kitabnya kemudian klo anda tidak bisa baca, minta diartikan tiap katanya oleh ustadz yang mahir ‘arabiyah.

ahlusunnah menta’wil ayat mutasyabihat

Ta’wil berarti menjauhkan makna dari segi zahirnya kepada makna yang lebih layak bagi Allah, ini kerana zahir makna nas al-Mutasyabihat tersebut mempunyai unsur jelas persamaan Allah dengan makhluk. 

Dalil melakukan ta’wil ayat dan hadis mutasyabihat:
Rasulullah berdoa kepada Ibnu Abbas dengan doa: Maknanya: “Ya Allah alimkanlah dia hikmah dan takwil Al quran” H.R Ibnu Majah. (Sebahagian ulamak salaf termasuk Ibnu Abbas mentakwil ayat-ayat mutasyabihah).

Ta’wilan pula ada dua:
Pertama: Ta’wilan Ijmaliyy yaitu ta’wilan yang dilakukan secara umum dengan menafikan makna zahir nas al-Mutasyabihat tanpa diperincikan maknanya.
sebagai contoh perkataan istawa dikatakan istawa yang layak bagi Allah dan waktu yang sama dinafikan zahir makna istawa kerana zahirnya bererti duduk dan bertempat, Allah mahasuci dari bersifat duduk dan bertempat.
Kedua adalah: Ta’wilan Tafsiliyy iaitu ta’wilan yang menafikan makna zahir nas tersebut kemudian meletakkan makna yang layak bagi Allah.
seperti istawa bagi Allah bererti Maha Berkuasa kerana Allah sendiri sifatkan dirinya sebagai Maha Berkuasa.

Saya sebelum terkena virus wahaby, saya pernah ngaji di KH khusnul hidayat – pondok pesantren jamiurrahman (sukun -malang jawa timur)….

kemudian : tobatnya setelah konsultasi dengan ustaz syabab ahlusunnah waljamaah (ustaz kholil muhyidin LC, MAg) – ponpes al itqan – Cengkareng jakarta….

kemudian saya belajar intensif dipondok darussa’adah (Kyai Muhammad fakhrurrijal) – Jl Purnawirawan 7 bandar lampung…

alhamdulillah terbuka hijab “kebatilan wahaby/salafy” ternyata dalil2 mereka adalah salah….
saya sekarang berakidah ahlusunnah, madzab syafei, dengan keyakinan dan dalil yang kuat…..dan berusaha mengamalkan sunnah dan dakwah sampai mati


Rabu, 18 Desember 2013

ADA KEBERKAHAN DI PENDOPO-PALI



Bismillahirrohmanirrohim

Sungguh pengalaman yang sangat indah dan berkesan bagi hidup saya, bagaimana tidak!! karena sebelumnya sepulang kerja saya di Perusahaan Oil Company yang berkantor di Komperta Pendopo Kec. Talang Ubi, Kab. Pali ini, saya biasanya langsung saja pulang ke Rumah untuk berjumpa dengan keluarga & pagi besoknya berangkat kerja dari Rumah.

Tapi kali ini berbeda lho..,sepulang kerja saya langsung ke Rumah-rumah Allah SWT (Masjid) disekitaran Pendopo dan berjumpa teman-teman yang telah lebih dahulu berada disana yang sedang melaksanakan program belajar, dan besok paginya saya berangkat kerja dari Masjid.

Teman-teman ini berasal dari berbagai daerah disekitar Sumsel seperti Prabumulih, Palembang, Muara Enim, Pendopo (Pali) dan Indralaya (OI).

Ngapai aja sich teman-teman ini 3 Hari dari Masjid ke Masjid ???

Wah Rupanya teman-teman ini sedang belajar memperbaiki diri dengan mengamalkan Agama dengan sempurna dengan cara mengikuti program Ittikaf di Masjid selama 3 Hari.

Selain itu mereka belajar menghidupkan/ menapaktilasi Program (Amalan) agama di Masjid Nabawi yang pernah dibuat oleh Nabi Muhammad SAW dan Sahabat-sahabatnya  yaitu: Dakwah, Taklim wa Ta’allum (Belajar & mengajar), dan Tazkiyyah (Dzikir Ibadah dan Khidmat). Sesuai QS.Baqarah : 129. 

Teman-teman ini menjalankan program belajar untuk memakmurkan Masjid- masjid ditempat mereka Ittikaf dengan tertib sebagai berikut :
  • 4 Jam mereka gunakan untuk belajar (Taklim), yang terdiri dari :

    1. Taklim Kitabi

    2. Taklim Halaqah Al Quran

    3. Taklim Enam Sifat

    4. Mudzakarah (Belajar) Adab-Adab Sunah dan doa Sehari-hari

    5. Taklim Infiradi, yakni membaca buku yang mereka bawa di luar amalan ijtima’i

    4 Jam untuk Dakwah (Jaulah), yang terdiri dari :

    1. Jaulah Umumi, yakni jumpa seluruh orang kampung

    2. Jaulah Khususi, yakni jumpa orang perorang sebagaimana kedudukan orang yang didatangi, misalnya : ulama atau umara.

    3. Jaulah Taklimi, yakni mereka berkeliling untuk ajak orang kampung duduk di majlis taklim fadhilah amal yang mereka buat.

    4. Jaulah Tasykili, yakni mereka datang ke tempat orang yang ada simpati setelah mendengar bayan-bayan (penjelasan) mereka.

    5. Jaulah Ushuli, yakni mereka datang kepada orang yang niat keluar bersamaan dengan kepindahan mereka ke kampung lain.

    4 Jam Mereka gunakan untuk Dzikir Ibadah, yang terdiri dari :

    1. Sholat berjamaah
    2. Sholat-sholat sunnah
    3. Dzikir Pagi Petang
    4. Sholat Tahajud dan Doa Hidayah dimalam hari
    5. Tilawah Al Quran
    6. Doa-doa masnunah
    4 Jam mereka gunakan untuk Khidmat (Pelayanan), yang terdiri dari :
    1. Khidmat kepada Amir (Ketua).
    2. Khidmat kepada Jemaah
    3. Khidmat kepada orang kampung
    4. Khidmat kepada diri sendiri
    Semuanya menyita waktu 16 Jam. Sedangkan sisanya digunakan 6 jam untuk tidur dan 2 jam untuk MCK dan keperluan pribadi lainnya.
Yang Paling berkesan bagi saya adalah ketika ikut program berjumpa atau bersilaturahmi dengan saudara muslim ("Jaulah") disekitar Masjid tempat kami Ittikaf. "Pesan yang disampaikan adalah kita ini besaudara yang diikat dengan kalimat LAAILAHAILALLAH MUHAMMADURROSULULLAH, apabila dekat saling bersilaturrahmi dan saling mengingatkan, supaya sukses didunia dan akhirat, setelah menjalani hidup dialam dunia ini manusia akan pindah kealam Akhirat yaitu Kubur (Alam Kubur), Berkumpul di Padang Masyar, Mizan, Sirot, Surga atau Neraka.........
Sebaik-baik bekal agar kita selamat dan sukses di alam dunia dan akhirat adalah Iman dan amal sholeh. sesuai dengan (QS. An-Nahl: 97).

lalu
rombongan ± 4 Orang yang bertugas bersilaturrahmi ini mengajak Sdr Muslimnya mendatangi Masjid untuk mendengarkan Ceramah Agama tentang pentingnya Iman dan amal sholeh dan bagaimana cara mendapatkan iman dan amal sholeh ini !!!

Petugas yang bersilaturrahmi ini terkadang disambut dengan baik oleh sdr Muslim dan langsung mau diajak kemasjid, ada yang masih malu-malu dan ada juga yang belum mau diajak dengan berbagai macam alasan.
Sayapun terobsesi teringat pada kisah-kisah perjuangan dakwah Rosulullah Saw dan para sahabat Ra pada permulaan islam didakwakan, orang-orang Mekah menolak ajakannya dan mencacinya, dan akhirnya tak terasa air saya mata mengalir karena sedih...........

Benar-benar saya mendapatkan pengalaman spiritual di Pendopo Pali ini...
Saya yakin untuk meraih sukses didunia butuh usaha pengorbanan dan untuk sukses akhirat (Masuk Syurga) juga perlu usaha dan pengorbanan... Ya Allah Alhamdulillah ala ni'matil imani wal islam......

Minggu, 03 November 2013

40 HARI BELAJAR DAKWAH DI PENDOPO-PALI



Jaulah (Silaturrahmi ke-Rumah-rumah) dan Kisah Habib Najjar (QS Yasin: 20)
 
Assalamualaikum wr.wb.
Alhamdulillahillazdi ala nikmatil iman wal islam 3x...

Tuan-tuan yang mulia...

Cintanya Allah SWT pada hambanya 70 kali lipat dari pada cintanya seorang ibu pada anak-anaknya.
Apabila Allah SWT mencintai kita maka Allah beri kekuatan untuk mengamalkan perkara-perkara agama dan apabila Allah tidak mencintai hambanya maka Allah SWT SWT akan sibukan dengan perkara-perkara Dunia dan lalai dengan perkara Agama.

Tuan-tuan yang mulia..
Tujuan kita beramal adalah untuk memperoleh ridhonya Allah swt, ridho Allah itu adalah melakukan amalan agama yang menyenangkan Allah SWT.

Ada beberapa amal agama yang membuat Allah meredhoi hambanya antara lain:
  1. Berbakti kepada Kedua Orang tua
  2. Menegakan sholat 5 waktu
  3. Jihat fisabilillah
1. Berbakti kepada Kedua Orang tua
Seperti halnya kisah nabi Musa As, menanyakan kepada Allah siapa nanti temanya maka Allah jawab temannya nanti Tukang daging sehingga dia ingin tau keistimewaannya.  Maka nabi musa ikut kerumahnya yang ternyata dia tinggal bersama ibunya yang sudah tua yang dirawatnya, dimandikan , disuapi dengan daging dan makanan yang paling terbaik sehingga setiap dia beri makan oleh anaknya ia berdoa “Ya. Allah masukan anakku kesurga bersama Nabi Musa As”.

2. Menegakan sholat 5 waktu
Orang yang menegak shalat 5 waktu maka Allah memberi jaminan sbb:

  1. Dibukakan pintu rezeki 
  2. Dibebaskan azab kubur 
  3. Menerima catatan amal melalui tangan kanan 
  4. Menyebrang siroth secepat kilat 
  5. Masuk surga tanpa hisab
3. Jihat fisabilillah

Maksud dan tujuannya adalah “Liila kalimatillah” sebagaimana proses-prosesnya antara lain sebagai berikut:
  1. Menyampaikan dengan cara Jaulah atau silaturrahmi)
  2. Menyampaikan dengan cara tulisan
  3. Khuruj kejalan Allah
Silaturrahmi adalah berjalan/berjaulah menjumpai umat islam ke rumah-rumahnya saling menasehati terkait perkara agama dimana umat islam diingatkan selain menyiapkan bekal Dunia, maka BEKAL akhirat (Alam KUBUR, SIROTH & SURGA/ NERAKA) juga perlu dipersiapkan.

Silaturrahmi tulang punggung dakwah, dakwah  tulang punggung agama. Sesuatu yang tidak punya tulang punggung maka tak akan bisa berdiri tegak.

Silaturrahmi sering dilakukan oleh para Anbiya, Rosulullah sendiri sering berjaulah dikota thaif, pada musim haji di Mina dan seluruh Mekkah.

Diriwayatkan bahwa seandainya telapak kaki rosulullah diberi tinta merah maka merahlah semua jalanan dikota itu,tak ada satu pun jalanan yang tidak dilalui oleh Rosulullah. Rumah pamannya sendiri, Abu Jahal ia datangi walau pun berkali-kali ditolak.

Beliau berjalah bersama Abu Bakar RA , Zaid bin Harits ra atau bersama Abbas ra pada waktu ia blm islam.
Beliau berkeliling dari kampung ke kampung dari lorong ke lorong atau dari rumah ke rumah mengajak orang untuk taat kepada allah. Dalam surat Yasin diceritakan 2 orang kaum hawariyun utusan Nabi Isa As berjaulah di Antakiyah (Anthiokia), yaitu sebuah kota di Romawi/Rum (Habib Najjar).

Suatu hari Fatimah sangat sedih melihat keadaan Rosulullah dari berjaulah, dengan kulit yang hitam terbakar matahari dan pakaian yang kusam, maka Rosulullah bersabda:
Wahai Fatimah! Jangan engkau bersedih. Sesungguhnya Allah telah mengutus Ayahmu dengan sesuatu yang tidak tidak tersisa satu rumah pun dimuka bumi ini, dikota maupun di Desa, melainkan allah akan memasukan kedalamnya kemulyaan atau kehinaan (jika mereka menolaknya), sehingga agama akan tersebar sebagaimana tersebarnya malam” (Hr. Thabrani – kansul ummal).

Tercantum dalam sejarah Rosulullah hanya 2 kali mengumpulkan orang banyak ditempat terbuka untuk berdakwah yaitu:
  1. Ketika tiba dari sidrotul muntaha (peristiwa isro dan mi’rat) yang dibubarkan oleh Abu Lahab.
  2. Pada saat Haji Wada” dimana wahyu terakhir turun dengan pembentukan dan pengiriman jama’ah untuk khuruj fisabilillah yang pertama kali sebelum beliau wapat, yang pemberangkatannya dilanjutkan oleh abu bakar dan dipimpin oleh usama.
  3. Usaha lainya dengan silaturrahmi /berjaulah dari pintu kepintu dan dari kabilah ke kabilah.
Dalam usaha pertanian, silaturrahmi /jaulah  ibarat menebar benih-benih hidayah kehati-hati manusia , kepada orang yang masih layak diberi hidayah  oleh Allah.


Keutamaan jaulah.
Siapa yang mengalami kesusahan untuk mengajak orang dalam jaulah, maka allah akan mudahkan langkahnya masuk surga. Setiap langkahnya kakinya mengangkat derajatnya 700 kali disisi allah dan akan menggugurkan dosa-dosa.

Kisah Habib Najjar dan Hikmanya.
Ada kisah dalam Alquran yang kurang mendapatkan perhatian masyarakat, tetapi ayatnya menjadi bacaan favorit bagi hampir seluruh masyarakat Islam. Kisah tersebut termuat dalam surah Yasin [36]: 13-32. Intinya ialah, Nabi (Isa) mengirim dua orang utusan kepada kaum (Antioch), tapi kedua orang tersebut gagal dalam mengemban tugas dan justru disiksa dan dimasukkan penjara. (Zamakhsyari: Tafsir al-Kasysyaf).
Setelah itu, diutus orang ketiga untuk menyelamatkan kedua utusan yang telah dipenjara dan sekaligus menyampaikan agama yang benar. Utusan yang  ketiga berhasil mendekat ke penguasa serta membebaskan keduanya dari penjara. Akan tetapi, karena sikap egoisme dari raja dan kaumnya, ketiga utusan tersebut dianggap salah dan akhirnya di hukum sampai mati.

Pada saat itulah, datang seseorang (Habib al-Najar) yang mengatakan bahwa utusan tersebut benar dan harus diikuti. Alasannya, para utusan tidak meminta upah dalam menyebarkan agamanya. Namun, Habib al-Najar juga menemui nasib yang sama seperti ketiga utusan yang ia bela. Karena pembelaan tersebut,  Allah SWT memasukkannya ke dalam surga. Kaum Antioch ini akhirnya dimusnahkan oleh Allah SWT.

Dari kisah ini, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil hikmahnya. Pertama, setiap pendakwah agama hendaknya mencari strategi yang tepat sehingga dakwahnya dapat diterima. Jangan seperti dua utusan yang bersifat gegabah, tetapi seperti yang ketiga yang bersifat bijak dan bersahabat dengan masyarakat dan penguasa.
Kedua, setiap menjalankan dakwah hendaknya disertai dengan keikhlasan dan tidak meminta imbalan sehingga dapat dipercaya oleh masyarakat. (QS Yasin [36]:21).
Ketiga, ketika masyarakat tidak mau diajak pada kebaikan maka sikap pendakwah adalah mendoakannya agar diberi hidayah. Sikap ini seperti yang dilakukan oleh Habib al-Najar, padahal ia sedang dihukum oleh kaumnya, “Ya Allah berilah petunjuk kaumku,” dan sikap Nabi Muhammad SAW yang mendoakan kaumnya kendati beliau dilempari batu oleh kaum Quraisy. (Hamami Zadah: Tafsir Yasin). Sedangkan sikap putus asa merupakan sikapnya orang kafir. (QS Yusuf [12]:87).
Keempat, jika menyampaikan kebenaran kepada seorang penguasa maka sikap yang diambil adalah damai, bukan menentang secara frontal, sehingga mereka juga dapat memahami isi ajaran dengan hati nurani.
Kelima, kebenaran hendaknya disampaikan dengan pelan dan penuh strategi.

Hikmah bagi masyarakat adalah semua kejadian yang tidak baik bagi masyarakat bukan karena kesalahan para utusan yang mengajak kebaikan, tapi semata-mata kesalahan masyarakat tersebut..

Subhanaallahi wabihamdi, subhanakaaallahumma wabibihamdika asyhadual-lailahaillah anta astagfirullah waatubu ilaih..