Translate

Jumat, 30 Mei 2014

MENGAPA HARUS BERMAZHAB


Diringkas dari Artikel dalil mengapa harus bermazhab http://generasisalaf.wordpress.com 

Artikel ini adalah sebagai hujah untuk menguatkan pendapat dibolehkannya kita bermazhab dalam Fiqh dan juga sebagai jawaban bagi orang2 yang merasa tidak perlu atau menolak mazhab. 

Berikut beberapa penjelasan kita dibolehkan bermazhab atau mengikut salah satu daripada empat mazhab yang muktabar yaitu Mazhab Syafi’i, Mazhab Maliki, Mazhab Hanafi dan Mazhab Hambali. penjelasannya antara lain:

PERTAMA:
Memang sudah ada isyarat daripada Hadis Rasulullah: Sebaik-baik manusia ialah yang berada di kurun aku, kemudian mereka yang selepas kurun itu, kemudian mereka yang mengiringi kurun itu pula. (Riwayat Al Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW menyebut bahwa umat Islam sekitar tiga kurun itu secara majoritinya adalah baik-baik, soleh-soleh bahkan sebahagian daripadanya bertaraf muqarrobin. Mereka inilah yang dikatakan salafussoleh (orang soleh zaman dahulu).

Manakala keempat-empat Imam Mazhab tersebut hidup pada sekitar tiga kurun selepas Rasulullah SAW. Imam Hanafi dan Imam Malik hidup pada kurun yang pertama lagi; masing-masing lahir pada tahun 80 dan 93 Hijrah. Sementara Imam Syafi’i (lahir 150 Hijrah) dan Imam Hambali (lahir 164 Hijrah) berada pada akhir kurun kedua sehingga kurun yang ketiga. Sedangkan menurut Hadis tadi, secara umum umat Islam sekitar tiga kurun itulah yang patut menjadi ikutan kita. Sunnah mereka, tradisi mereka, kebudayaan mereka dan lain-lain menjadi ikutan kita.

KEDUA:
ALLAH telah mengisyaratkan kepada kita melalui Al Quranul Karim, kalau kita tidak tahu kerana kita bukan orang alim, kena bertanya kepada orang yang tahu atau yang alim. Ertinya pandangan-pandangan orang alim itu eloklah menjadi pegangan dan ikutan kita. Kerana mereka lebih tahu daripada kita. Firman ALLAH:
Bertanyalah kepada ahli ilmu (alim ulama; orang yang tahu) kalau kamu tidak mengetahui. (An Nahl: 43)
Imam-imam yang empat tadi patut menjadi ikutan kita. Dan patut pula kita tanyakan fatwa-fatwa mereka. Kalau mereka sudah tiada lagi, ada kitab-kitab yang ditinggalkan oleh mereka. Bahkan kitab-kitab mereka itu telah pun diurai dan dijelaskan lagi oleh ulama-ulama di belakang mereka. “Kalau kita ikut mana-mana mazhab yang empat itu, bererti kita tidak terkeluar daripada apa yang dianjurkan oleh ALLAH dan Rasul”

KETIGA:
Banyak orang tidak sedar pembuku-pembuku Hadis atau perawi-perawi Hadis seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Tarmizi dan lain-lain lagi, walaupun mereka mengumpulkan dan menilai Hadis tetapi dari segi kefahaman atau dalam mengeluarkan hukum, mereka juga bersandar dengan Imam-Imam Mazhab.
Umpamanya Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Tarmizi adalah bermazhab Syafi’i.Kalaulah Imam-Imam Hadis itu pun mengikut Imam Syafi’i, siapakah kita ini.

KEEMPAT:
Kita lihat orang-orang yang mengajak untuk tidak bermazhab ini adalah ulama-ulama mutaakhirin. Bermula daripada Ibnu Taimiyah yang hidup lebih kurang 700 tahun yang lalu. Dia bukan ulama yang berada sekitar 300 tahun selepas Rasulullah SAW. Kemudian fahamannya disambung oleh muridnya yang bemama Ibnu Qayyim, Al Jauzi hinggalah mama-ulama di kurun kedua puluh ini seperti Muhamad Abduh, Jamaluddin Al Afghani, Rashid Redha, Hamka dan lain-lain lagi. Mereka ini hidup di luar daripada lingkungan 300 tahun selepas Rasulullah SAW. Jadi tidak ada isyarat daripada Rasulullah bahwa mereka ini patut menjadi ikutan.

KELIMA:
Walaupun ada orang yang menganjurkan tidak perlu ikut mazhab, cukup hanya ikut Al Quran dan Hadis sahaja, tetapi pada hakikatnya semua orang bermazhab, sama ada dia mengaku atau tidak. Kerana golongan yang tidak mahu bermazhab itu bukan semuanya ulama. Maka mereka terpaksa bersandar dengan mana-mana ulama yang juga menolak mazhab. Maka ulama tempat mereka bersandar itulah sebenarnya imam mazhab mereka.
Katakanlah kita bertanya kepada orang itu, “Tuan tahu bahasa Arab?” Katalah katanya, “Tidak tahu.”
“Habis, bagaimana tuan memahami Al Quran dan Hadis?”
“Ya, kerana saya berpegang kepada ulama yang menganjurkan ikut Al Quran dan Hadis.”
“Siapa ulama itu?” Katakanlah dia menjawab ulama tersebut ialah Muhammad, maka Muhammad itulah mazhabnya.
Kalau Ali, maka Ali-lah mazhabnya.
Saya pernah bertanya kepada seorang yang menolak mazhab,
“Ustaz tahu bahasa Arab?”
“Tak tahu.”
“Habis, ustaz suruh ikut Al Quran dan Hadis sahaja, kalau tidak tahu bahasa Arab bagaimana mengistinbatkan hukum dari Quran dan Hadis?”
“Saya baca tafsir Muhammad Yunus.”
Maka saya berkata, “Oh! hakikatnya ustaz bermazhablah. Muhammad Yunus itu mazhab ustaz. Jadi kalau ustaz bermazhab juga, lebih baik ikut Imam Syafi’i. Seluruh dunia menerima Imam Syafi’i, bukan saja orang awam, ulama-ulama pun ikut.” Dia pun terdiam.
Hakikatnya semua manusia mempunyai mazhab sama ada sedar atau tidak. Maka sekiranya semua manusia ini bermazhab, lebih baik dan lebih selamat ikut mazhab yang muktabar, yang diakui bukan sahaja oleh orang awam bahkan juga oleh ulama-ulama besar seperti Imam Al Ghazali, Imam Sayuti dan ramai lagi.
Source: aboutmiracle.wordpress.com

Kamis, 29 Mei 2014

MENGENAI TAQLID, ITTIBA, DAN TALFIQ DALAM SYARIAT ISLAM


Judul “Taqlid, Ittiba, dan Talfiq” Penulis : Jamilah NIM 1003110308 (Mahasiswa Jurusan Dakwah, Prodi KPI, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Palangka Raya, Dipresentasikan dalam diskusi kelas pada semester Genap tahun 2012) dan Diedit kembali oleh Abdul Helim
Secara garis besarnya Taqlid adalah mengikuti tanpa mengetahui dalilnya, Ittiba adalah Megikuti dengan mengetahui dalilnya, dan Talfiq adalah memilih pendapat imam mazhab yang terbaik dan ringan menurutnya.
Kesimpulan penulis mengenai Taqlid, Ittiba, dan Talfiq:

1.    Taqlid

Hakekat taqlid menurut ahli bahasa, diambil dari kata-kata qiladah (kalung), yaitu sesuatu yang digantungkan atau dikalungkan seseorang kepada orang lain. Contoh penggunaannya dalam bahasa Arab, yaitu taqlid al-hady (mengalungi hewan kurban). Seseorang yang bertaqlid, dengan taqlidnya itu seolah-olah menggantungkan hukum yang diikutinya dari seorang mujtahid. Taqlid artinya mengikut tanpa alasan, meniru dan menurut tanpa dalil. Menurut istilah agama yaitu menerima suatu ucapan orang lain serta memperpegangi tentang suatu hukum agama dengan tidak mengetahui keterangan-keterangan dan alasan-alasannya. Orang yang menerima cara tersebut disebut muqallid.
Taqlid ada dua macam yiatu taqlid yang diperbolehkan, yaitu taqlid bagi orang-orang awam yang belum sampai pada tingkatan sanggup mengkaji dalil dari hukum-hukum syariat.  dan taqlid yang tidak diperbolehkan (dilarang/ haram), yaitu bagi orang-orang yang sudah mencapai tingakatan an-nazhr atau yang sanggup mengkaji hukum-hukum syariat.Syarat-syarat taqlid bisa dilihat dari dua hal, yaitu syarat orang yang bertaqlid dan syarat-syarat yang ditaqlidi.

2.    Ittiba
Ittiba artinya menurut atau mengikut. Menurut istilah agama yaitu menerima ucapan atau perkataan orang serta mengetahui alasan-alasannya (dalil) baik dalil itu al-Quran maupun Hadis yang dapat dijadikan hujjah. Imam Syafii mengemukakan pendapat bahwa ittiba berarti mengikuti pendapat-pendapat yang datang dari Nabi Muhammad SAW dan para sahabat atau yang datang dari tabiin yang mendatangkan kebajikan. Sedangkan menurut para ahli ushul fiqh ialah menerima atau mengikuti perkataan orang lain dengan mengetahui sumber atau alasan perkataan itu. Orang yang melakukan ittiba disebut muttabi yang jamaknya disebut muttabiun. Ittiba memang dan bahkan disuruh dalam agama.  Firman Allah dalam  surah An-Nahl ayat 43 merupakan suatu perintah untuk bertanya kepada orang yang tahu dari kitab dan sunnah, tidak dari yang lain-lain. Dengan demikian, jelaslah bahwa ittiba itu tidak dilarang.

3.    Talfiq

Talfiq yaitu menyelesaikan suatu masalah (hukum) menurut hukum yang terdiri atas kumpulan (gabungan) dua mazhab atau lebih. Fuqaha dan Ahli Ushul mengenai hukum talfiq ini, yakni boleh atau tidaknya seseorang berindah mazhab, baik secara keseluruhan maupun sebagian mereka terbagi keadalam tiga pendapat yaitu :
Pendapat pertama, mengatakan bila seseorang telah memiliki (memilih) salah satu mazhab, maka ia harus tetap pada mazhab yang telah dipilihnya itu. Ia tidak dibenarkan pindah kepada mazhab yang lain, baik secara keseluruhan maupun sebagian.
Pendapat kedua, mengatakan bahwa seseorang yang telah memilih salah satu mazhab boleh berpindah ke mazhab yang lain walaupun untuk mencari keringanan dengan ketentuan hal itu tidak terjadi dalam satu kasus hukum yang menurut mazhab pertama dan mazhab kedua sama-sama memandang batal (tidak sah). Atas dasar ini maka talfiq dapat dibenarkan.
Pendapat ketiga, berpendirian bahwa seorang yang telah memilih salah satu mazhab tidak ada larangan agama terhadap dirinya untuk pindah ke mazhab lain, walaupun didorong untuk mencari keringanan. Ia dibenarkan mengambil pendapat dari tiap-tiap mazhab yang dipandangnya mudah dan gampang, dengan alasan Rasulullah sendiri kalau disuruh memilih antara dua perkara beliau memilih yang paling mudah selama hal itu tidak membawa dosa dengan alasan ini maka talfiq hukumnya mubah.

Sedangkan Ulama Jumhur mengklasifikasikan talfiq kepada dua macam yaitu:
 pertama, Talfiq yang dibolehkan, yaitu mengambil yang teringan diantara pendapat-pendapat para mujtahid (mazhab) dalam beberapa masalah yang berbeda-beda. Mereka beralasan bahwa talfiq sesuai dengan prinsip penetapan hukum yang ditunjukkan syara yaitu tidak menyulitkan. Tetapi kemudahan yang diberikan oleh agama tersebut itu jangan dimudah-mudahkan. Para ulama membolehkan talfiq ini dengan tujuan untuk memperkecil fanatisme terhadap satu mazhab atau menghindarkan perpecahan di kalangan umat Islam.
Kedua, Talfiq yang tidak dibolehkan, yaitu mengambil yang teringan diantara pendapat-pendapat para mujtahid dalam suatu masalah. Bagi Ulama yang tidak memperbolehkan talfiq ini mereka adalah kelompok yang berpegang teguh kepada pendapat para Imamnya yang telah dijangkiti penyakit taqlid dan fanatik mazhab.
Talfiq merupakan istilah yang lahir sebagai reaksi dari berjangkitnya taqlid yang telah melanda umat yang cuku lama, kemudian talfiq muncul bersamaan dengan kebangkitan kembali umat Islam dan eksistensinya membawa pro dan kontra di kalangan umat (fuqaha). Talfiq merupakan istilah yang relatif baru dalam lapangan fiqh.

Selengkapnya silahkan baca di http://www.abdulhelim.com/2012/05/taqlid-ittiba-dan-talfiq.html